Kamis, 1 Januari
2014...
Gn.
Lawu, via cemoro sewu Magetan, Jawa Timur dari sinilah perjalananku dimulai.
Bersama dua orang sahabatku kita mencoba untuk keluar dari rutinitas menjemukan
dan membosankan. Biasanya kita cuman nongkrong di wedangan untuk sekedar
mengobrol sekaligus bercanda tapi kali ini kita melakukan hal yang beda. Satu
hal yang belum pernah gua coba dalam hidup gua. Awalnya sih hanya sekedar bahan
candaan saja karena sahabat gua yang gendut ini menantang gua untuk hiking atau
yang sering disebut muncak. Gua langsung saja untuk mengiyakan kapan dan mau
naik ke gunung apa. Sahabat gua itu menunjuk Gunung Lawu untuk menjadi pilihan
kita.
Besoknya
kita bertiga bergegas untuk mencari peralatan hiking walaupun sederhana, sama
seperti prinsip kita R ( R berarti tidak punya uang, diambil dari kata rugi).
Pertama kita mencari tenda untuk ngecamp, alhasil tenda pramuka yang kita
dapat. Setelah mendapat tenda gua dan teman gua langsung mencoba untuk latihan
mendirikannya, dan akhirnya berhasil. Tenda yang kita pinjam secara gratis ini
ada beberapa lubang karena digerogoti oleh tikus. Gua minta nyokap gua untuk
menutup dengan cara menambalnya. Taklupa gua juga beli pasak dan tali pramuka.
Lumayan juga buat mengenang masa pramuka waktu di sekolah dulu. Tenda dan
teman-temannya selesai.
Selesai
dengan tenda gua cari kompor untuk makan disana. Kita berfikir menyewa kompor
hanya buang duit saja, makanya kita buat dari kaleng bekas susu. Gua gua potong
beberapa bagian untuk dijadikan kaki-kakinya. Lalu kita bergegas pergi beli
spirtus untuk bahan bakarnya seharga 15.000/liternya dan kapas sebagai media
untuk sumbu kompor. Kita ujicoba dan berhasil. Sebelumya kita sempat tanya ke
tetangga gua tentang parafin karena gua baca artikel tentang naik gunung ada
juga yang menggunakan parafin sebagai pengganti kompor gas. Tetapi yang kita
beli bukannya parafin buat mebuat api melainkan parafin campuran malam untuk
membatik seharga 18 000 yang kita buang sia-sia. Kompor dan keluarganya
selesai.
Perlengkapan
pendukung mulai kita siapkan seperti senter, peralatan obat ( betadine, kapas,
hansaplas, koyok, dan tolak angin), gunting, jas hujan, sarung tangan, dan gula
merah yang sangat bermanfaat pada waktu melakukan pendakian. Pakaian hangat,
dan penutup kepala juga hal yang penting untuk dibawa. Setelah semua
perlengkapan dianggap beres, kita lanjut utuk membeli makanan baik itu mi
instan, kopi, roti, dan air mineral.
Yap,
mulailah kita melakukan perjalanan dimulai dari naik bis besar jurusan terminal
tirtonadi. Lalu kita ganti bis jurusan tawangmangu dan terakhir kita naik
angkutan kecil ke cemoro sewu. Sesampainya disana kita banyak menjumpai para
pendaki yang sudah mulai turun maupun yang akan naik. Target gua yang mulai
muncak jam 2 siang molor menjadi jam 4 sore karena tadi macet waktu naik angkutan
kecil maklumlah pas tahun baruan. Segera kita mengisi perut keroncongan kita
dengan soto lamongan yang berada di basecamp cemoro sewu ini. Panas membuat
rasanya begitu nikmat dinikmati ditempat yang dingin ini.
Perjalananpun
dimulai, setelah kita beli tiket masuk seharga 10.000 per orang. Tak lupa kita
foto selfie dulu tepat digerbang masuk cemoro sewu ini. Sebenarnya ada 2 jalur
pendakian di Gn.Lawu yaitu cemoro sewu dan cemoro kandang, dengan cemoro sewu
bermedan batu-batu yang sudah ditata rapi hingga sampai ke puncak dan cemoro
kandang yang masih alami dengan medan masih tanah. Karena kita masih pemula
maka kita naik via cemoro sewu yang biasa digunakan oleh para pendaki pemula.
Berdoa
menjadi hal yang pertama dan utama sebelum melakukan pendakian di semua gunung
tidak hanya Gn. Lawu saja. Ingatlah, bahwa apa yang kita dapat itu timbal balik
dari apa yang telah kita perbuat. Setapak demi setapak langkah telah kita lalui
dan yang terjadi adalah baru 5 menit mendaki teman saya yang gendut ini sudah istirahat
sebentar, haha siapa juga yang bilang mendaki itu gampang, mudah, bahkan tidak
sulit, kayagnya sama aja deh. Perjalanan kita lanjutkan setapak demi setapak
langkah kaki kita lalui dan sampailah kita di pos bayangan 1 tak lupa kita
istirahat dulu sebentar. Selanjutnya kita melewati sampai pos 1 tepat pukul 6
sore. Sedikit saya menyampaikan medan dari base camp menuju pos 1 ini tak
begitu menanjak dan juga rutenya bisa ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam tergantung
kekuatan fisik kita aja. Menjelang magrib senter yang kita bawa mulai kita
hidupkan karena sudah mulai gelap.
Disini
kita banyak bertemu para pendaki ada yang dari magetan, jogja, dan solo. Segera
gua mengambil kompor buatan sendiri lalu gua hidupin dan jadilah apinya. Kedua
sahabat gua langsung bergerak cepat mengambil gelas dan kopi dari dalam tas.
Giliran susah nggak mau, yah nggak apalah namanya juga sahabat sendiri.
Ditengah suara jangkrik dan hembusan hawa dingin serta bisa bercengkerama antar
pendaki menjadi sebuah moment yang nggak akan pernah dilupakan apalagi ditambah
secangkir kopi panas yang nikmatnya, beeeehh. Sudah 1 jam berlalu dan kita
melanjutkan perjalanan menuju pos 2, mulai dari sinilah medan tanjakan yang
cukup tajam kita temui dan juga dilihat dari peta di karcis tiket masuk yang
kami dapat antara pos 1 ke pos 2 merupakan rute terjauh.
Gula
merah yang kita persiapkan sebelum berangkat kita makan dan hasilnya jreng
jreng, mantap tenaga kita yang sudah mulai terkuras perlahan mulai kembali
terisi dan gua mulai melihat satu sahabat gua ini sudah benar benar kelelaha
tapi berkat motivasi dari gua dan temen gua yang satunya dia berhasil sampai di
pos 2. Good job my friend, sekitar pukul 10 kita tiba di pos 2. Tenda yang kita
pinjam mulai kita bentangkan dan karena entah sudah malam dan kecapekan tenda
kita lucu wujudnya alias salah tapi tak apalah. Gua dan satu sahabat gua masak
mi instan dan juga membuat secangkir susu coklat hangat. Sedangkan satu sahabat
gua yang gendut itu sudah terkapar tak berdaya di dalam tenda. Setelah mi
matang dan susu coklat juga sudah gua bangunin sahabat gua yang tidur tadi,
selesai makan kita bersiap untuk istirahat untuk melanjutkan perjalanan besok.
Badai...
Selang
10 menit sehabis kita makan badai datang, pertama kita masih tetap bertahan di
tenda tapi lama kelamaan tenda mulai basah terkena air dan diluar suara angin
mulai menggelegar seperti suara gemuruh wuwuwu. Akhirnya kita tinggalkan tenda
kita dan membawa tas untuk masuk ke dalam pos, tapi kondisi pos sudah penuh
sesuk oleh para pendaki. Di tempat paling pojok kita dapat tempat dan hembusan
angin dingin serta hujan yang deras seolah menjadi teman kita bertiga di malam
itu.
Jum’at,
2 Januari 2014
Pagipun
datang menyisakan tenda yang basah kuyup sehabis kita dirikan malam tadi. Satu
persatu pendaki mulai melanjutkan perjalanan meninggalkan pos 2 ini. Kami
bertiga segera mengemasi tenda yang basah kuyup dan beberapa barang yang kita
gunakan untuk makan malam tadi. Disini kita berunding untuk melanjutkan
perjalanan lagi menuju puncak atau tidak karena tenda yang kita bawa kondisinya
basah dan tentunya menjadi berat. Gua memutuskan untuk turun saja setelah
beberapa hal yang gua pertimbangin salah satunya tenda dan kondisi badai yang
bisa datang sewaktu-waktu. Akhirnya kita turun walaupun gua di ejek “ah nggak
kuat dingin ya? Sudah capek ya?” , oleh kedua sahabat gua ini.
Sekitar
pukul 7 pagi kita turun dari pos 2 dan sampai di pos 1 sekitar pukul 10 pagi.
Di pos 1 hujan turun lagi dan kita berteduh sebentar untuk istirahat. Selesai
istirahat kita melanjutkan perjalanan walaupun hujan masih gerimis, tapi tak
apa karena kita memakai mantel. Jalanan mulai licin karena diguyur hujan
membuat kita harus extra hati-hati. Sahabat gua tiba-tiba terpeleset oleh batu
yang licin dan tanganya mendapat luka yang cukup dalam karena darah yang terus
keluar. Segera gua bersihkan lukanya dengan air lalu gua beri betadine dan gua
tutup dengan kapas lalu gua balut dengan lakban, sehingga lukanya tidak
infeksi. Jam 12 siang kita sampai di basecam cemoro sewu.
Kita
bersyukur bisa kembali sampai di basecamp dengan selamat walaupun tidak sampai
puncak tapi itu merupakan pengalaman mendaki pertama gua yang akan selalu gua
ingat. Setelah itu kita pulang kembali kerumah dan tiba di rumah sekitar pukul
5 sore. Di dalam angkutan kita bertemu dengan pendaki yang juga mau pulang
disitu gua banyak mendapat nasihat tentang apa arti itu mendaki, salah satunya
hiking itu olahraga maut yakni nyawa taruhannya. Banyak pendaki yang meninggal
kerena gengsi tidak mau memberi tahu bila menderita hipotermia atau memiliki
riwayat sakit pernafasan. Tenang gunung itu tidak akan lari kita bisa
mendakinya lain waktu, begitu nasihat beliau. Beliau naik ke puncak gunung lawu
bersama putrinya yang masih berumur 5 tahun, namanya edelwies. Ketika saya
tanya apakah sampai puncak? Beliau menjawab iya bersama dengan putrinya. Gua
cuma bisa bilang Wow.
Sekian
dulu ya WowGn.Lawunya.



