Your name

www.your-url-here.com
Your own description here. Edit it.
About Me
Replace this with your own description here. Go to "Edit HTML" to change this.

Minggu, 10 Januari 2016







Kamis, 1 Januari 2014...

Gn. Lawu, via cemoro sewu Magetan, Jawa Timur dari sinilah perjalananku dimulai. Bersama dua orang sahabatku kita mencoba untuk keluar dari rutinitas menjemukan dan membosankan. Biasanya kita cuman nongkrong di wedangan untuk sekedar mengobrol sekaligus bercanda tapi kali ini kita melakukan hal yang beda. Satu hal yang belum pernah gua coba dalam hidup gua. Awalnya sih hanya sekedar bahan candaan saja karena sahabat gua yang gendut ini menantang gua untuk hiking atau yang sering disebut muncak. Gua langsung saja untuk mengiyakan kapan dan mau naik ke gunung apa. Sahabat gua itu menunjuk Gunung Lawu untuk menjadi pilihan kita.
Besoknya kita bertiga bergegas untuk mencari peralatan hiking walaupun sederhana, sama seperti prinsip kita R ( R berarti tidak punya uang, diambil dari kata rugi). Pertama kita mencari tenda untuk ngecamp, alhasil tenda pramuka yang kita dapat. Setelah mendapat tenda gua dan teman gua langsung mencoba untuk latihan mendirikannya, dan akhirnya berhasil. Tenda yang kita pinjam secara gratis ini ada beberapa lubang karena digerogoti oleh tikus. Gua minta nyokap gua untuk menutup dengan cara menambalnya. Taklupa gua juga beli pasak dan tali pramuka. Lumayan juga buat mengenang masa pramuka waktu di sekolah dulu. Tenda dan teman-temannya selesai.
Selesai dengan tenda gua cari kompor untuk makan disana. Kita berfikir menyewa kompor hanya buang duit saja, makanya kita buat dari kaleng bekas susu. Gua gua potong beberapa bagian untuk dijadikan kaki-kakinya. Lalu kita bergegas pergi beli spirtus untuk bahan bakarnya seharga 15.000/liternya dan kapas sebagai media untuk sumbu kompor. Kita ujicoba dan berhasil. Sebelumya kita sempat tanya ke tetangga gua tentang parafin karena gua baca artikel tentang naik gunung ada juga yang menggunakan parafin sebagai pengganti kompor gas. Tetapi yang kita beli bukannya parafin buat mebuat api melainkan parafin campuran malam untuk membatik seharga 18 000 yang kita buang sia-sia. Kompor dan keluarganya selesai.
Perlengkapan pendukung mulai kita siapkan seperti senter, peralatan obat ( betadine, kapas, hansaplas, koyok, dan tolak angin), gunting, jas hujan, sarung tangan, dan gula merah yang sangat bermanfaat pada waktu melakukan pendakian. Pakaian hangat, dan penutup kepala juga hal yang penting untuk dibawa. Setelah semua perlengkapan dianggap beres, kita lanjut utuk membeli makanan baik itu mi instan, kopi, roti, dan air mineral.
Yap, mulailah kita melakukan perjalanan dimulai dari naik bis besar jurusan terminal tirtonadi. Lalu kita ganti bis jurusan tawangmangu dan terakhir kita naik angkutan kecil ke cemoro sewu. Sesampainya disana kita banyak menjumpai para pendaki yang sudah mulai turun maupun yang akan naik. Target gua yang mulai muncak jam 2 siang molor menjadi jam 4 sore karena tadi macet waktu naik angkutan kecil maklumlah pas tahun baruan. Segera kita mengisi perut keroncongan kita dengan soto lamongan yang berada di basecamp cemoro sewu ini. Panas membuat rasanya begitu nikmat dinikmati ditempat yang dingin ini.
Perjalananpun dimulai, setelah kita beli tiket masuk seharga 10.000 per orang. Tak lupa kita foto selfie dulu tepat digerbang masuk cemoro sewu ini. Sebenarnya ada 2 jalur pendakian di Gn.Lawu yaitu cemoro sewu dan cemoro kandang, dengan cemoro sewu bermedan batu-batu yang sudah ditata rapi hingga sampai ke puncak dan cemoro kandang yang masih alami dengan medan masih tanah. Karena kita masih pemula maka kita naik via cemoro sewu yang biasa digunakan oleh para pendaki pemula.
Berdoa menjadi hal yang pertama dan utama sebelum melakukan pendakian di semua gunung tidak hanya Gn. Lawu saja. Ingatlah, bahwa apa yang kita dapat itu timbal balik dari apa yang telah kita perbuat. Setapak demi setapak langkah telah kita lalui dan yang terjadi adalah baru 5 menit mendaki teman saya yang gendut ini sudah istirahat sebentar, haha siapa juga yang bilang mendaki itu gampang, mudah, bahkan tidak sulit, kayagnya sama aja deh. Perjalanan kita lanjutkan setapak demi setapak langkah kaki kita lalui dan sampailah kita di pos bayangan 1 tak lupa kita istirahat dulu sebentar. Selanjutnya kita melewati sampai pos 1 tepat pukul 6 sore. Sedikit saya menyampaikan medan dari base camp menuju pos 1 ini tak begitu menanjak dan juga rutenya bisa ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam tergantung kekuatan fisik kita aja. Menjelang magrib senter yang kita bawa mulai kita hidupkan karena sudah mulai gelap.

Disini kita banyak bertemu para pendaki ada yang dari magetan, jogja, dan solo. Segera gua mengambil kompor buatan sendiri lalu gua hidupin dan jadilah apinya. Kedua sahabat gua langsung bergerak cepat mengambil gelas dan kopi dari dalam tas. Giliran susah nggak mau, yah nggak apalah namanya juga sahabat sendiri. Ditengah suara jangkrik dan hembusan hawa dingin serta bisa bercengkerama antar pendaki menjadi sebuah moment yang nggak akan pernah dilupakan apalagi ditambah secangkir kopi panas yang nikmatnya, beeeehh. Sudah 1 jam berlalu dan kita melanjutkan perjalanan menuju pos 2, mulai dari sinilah medan tanjakan yang cukup tajam kita temui dan juga dilihat dari peta di karcis tiket masuk yang kami dapat antara pos 1 ke pos 2 merupakan rute terjauh.
Gula merah yang kita persiapkan sebelum berangkat kita makan dan hasilnya jreng jreng, mantap tenaga kita yang sudah mulai terkuras perlahan mulai kembali terisi dan gua mulai melihat satu sahabat gua ini sudah benar benar kelelaha tapi berkat motivasi dari gua dan temen gua yang satunya dia berhasil sampai di pos 2. Good job my friend, sekitar pukul 10 kita tiba di pos 2. Tenda yang kita pinjam mulai kita bentangkan dan karena entah sudah malam dan kecapekan tenda kita lucu wujudnya alias salah tapi tak apalah. Gua dan satu sahabat gua masak mi instan dan juga membuat secangkir susu coklat hangat. Sedangkan satu sahabat gua yang gendut itu sudah terkapar tak berdaya di dalam tenda. Setelah mi matang dan susu coklat juga sudah gua bangunin sahabat gua yang tidur tadi, selesai makan kita bersiap untuk istirahat untuk melanjutkan perjalanan besok.
Badai...
Selang 10 menit sehabis kita makan badai datang, pertama kita masih tetap bertahan di tenda tapi lama kelamaan tenda mulai basah terkena air dan diluar suara angin mulai menggelegar seperti suara gemuruh wuwuwu. Akhirnya kita tinggalkan tenda kita dan membawa tas untuk masuk ke dalam pos, tapi kondisi pos sudah penuh sesuk oleh para pendaki. Di tempat paling pojok kita dapat tempat dan hembusan angin dingin serta hujan yang deras seolah menjadi teman kita bertiga di malam itu.
Jum’at, 2 Januari 2014

Pagipun datang menyisakan tenda yang basah kuyup sehabis kita dirikan malam tadi. Satu persatu pendaki mulai melanjutkan perjalanan meninggalkan pos 2 ini. Kami bertiga segera mengemasi tenda yang basah kuyup dan beberapa barang yang kita gunakan untuk makan malam tadi. Disini kita berunding untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju puncak atau tidak karena tenda yang kita bawa kondisinya basah dan tentunya menjadi berat. Gua memutuskan untuk turun saja setelah beberapa hal yang gua pertimbangin salah satunya tenda dan kondisi badai yang bisa datang sewaktu-waktu. Akhirnya kita turun walaupun gua di ejek “ah nggak kuat dingin ya? Sudah capek ya?” , oleh kedua sahabat gua ini.
Sekitar pukul 7 pagi kita turun dari pos 2 dan sampai di pos 1 sekitar pukul 10 pagi. Di pos 1 hujan turun lagi dan kita berteduh sebentar untuk istirahat. Selesai istirahat kita melanjutkan perjalanan walaupun hujan masih gerimis, tapi tak apa karena kita memakai mantel. Jalanan mulai licin karena diguyur hujan membuat kita harus extra hati-hati. Sahabat gua tiba-tiba terpeleset oleh batu yang licin dan tanganya mendapat luka yang cukup dalam karena darah yang terus keluar. Segera gua bersihkan lukanya dengan air lalu gua beri betadine dan gua tutup dengan kapas lalu gua balut dengan lakban, sehingga lukanya tidak infeksi. Jam 12 siang kita sampai di basecam cemoro sewu.
Kita bersyukur bisa kembali sampai di basecamp dengan selamat walaupun tidak sampai puncak tapi itu merupakan pengalaman mendaki pertama gua yang akan selalu gua ingat. Setelah itu kita pulang kembali kerumah dan tiba di rumah sekitar pukul 5 sore. Di dalam angkutan kita bertemu dengan pendaki yang juga mau pulang disitu gua banyak mendapat nasihat tentang apa arti itu mendaki, salah satunya hiking itu olahraga maut yakni nyawa taruhannya. Banyak pendaki yang meninggal kerena gengsi tidak mau memberi tahu bila menderita hipotermia atau memiliki riwayat sakit pernafasan. Tenang gunung itu tidak akan lari kita bisa mendakinya lain waktu, begitu nasihat beliau. Beliau naik ke puncak gunung lawu bersama putrinya yang masih berumur 5 tahun, namanya edelwies. Ketika saya tanya apakah sampai puncak? Beliau menjawab iya bersama dengan putrinya. Gua cuma bisa bilang Wow.  


Sekian dulu ya WowGn.Lawunya.